Komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri kembali mengadakan ajang yang keren,
8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, yang dimana ajang tersebut memacu kita, para blogger, untuk kembali semangat menulis di blog setiap minggunya selama 8 minggu. Tiap minggu, Angingmammiri membuat tema khusus sebagai acuan penulisan di blog. Yah, saya sangat
excited dengan ajang ini, karena dengan adanya tema, maka penulisan di blog akan terarah dan secara tidak langsung, blog ini akan senantiasa terupdate dari minggu-keminggu. Bukan cuma memacu semangat aja, ada pula hadiah yang ditawarkan untuk para pemenang yang telah memenuhi kriteria dan kualifikasi yang dinilai langsung oleh juri. Wow. Oleh karena itu, untuk kali ini, saya nyatakan tulisan ini diikutkan pada
8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama. Kali ini saya akan bercerita tentang sekitar rumahku, yakni Flyover, Kantor, dan Rumahku.
Yah, sampai saat ini saya masih menetap di kediaman orang tua saya, tepatnya di
Jl. Urip Sumoharjo Km. 4 Makassar. Rumahku ini (baca: rumah orang tua) berlokasi di tempat yang sangat strategis, dimana merupakan jalan raya poros. Berbagai jenis angkutan umum lalu lalang di jalan ini. Disamping itu, jalanan ini merupakan lokasi didirikannya Kantor Kejaksaan Tinggi Sul-Sel (Kejati), Sekolah dan Universitas ("45" dan UMI), Kantor Smartfren, Gedung Graha Pena (Grapari Telkomsel, STIMED Nusa Palapa, dan sebagainya), ATM Center, Masjid, dan tentunya jalan layang satu-satunya yang ada di kota Makassar,
Flyover. Karena banyaknya bangunan, tak heran beberapa kenalan baru saya sempat tak percaya kalau saya tinggal diwilayah ini, karena secara umum, tempat ini tidak dikenal sebagai tempat pemukiman.
Penampakan rumahku dilihat dari Google Maps (2013)
Mungkin saya akan banyak bercerita tentang sejarah lokasi di sekitar rumahku ini. Daerah yang dulunya asri ini (sebelum dibangun
flyover dan gedung Graha Pena) sekarang menjadi kurang asri lagi. Pohon-pohon besar kini tak ada lagi, sehingga kurang memberikan kesejukan. Ditambah pekaranganku yang dulunya taman yang ditumbuhi pohon jambu dan delima pun akhirnya lenyap karena pelebaran jalan
flyover. Tetapi ada satu hal yang tak berubah, yaitu tidak terjadinya banjir di sekitar rumahku. Alhamdulillah di daerah sini tidak pernah terngenang air jika jika hujan deras. Selokan yang dulunya cukup besar, kini diganti dengan gorong-gorong yang sama-sama dapat diandalkan untuk menampung air agar daerah daratannya tidak tergenang air.